Beranda > kewirausahaan lanjutan > kedai digital

kedai digital

KEDAI DIGITAL

Menjadi wiraswastawan biasanya memang bukan pilihan bagi seorang sarjana. Setelah lulus kuliah, biasanya para sarjana memilih menjadi pekerja kantoran. Apa mau dikata, keinginan kadang tak sesuai dengan kenyataan. Saat ini justru banyak sarjana yang menganggur akibat kesulitan mencari kerja. Di tengah lapangan kerja yang semakin menipis, pilihan Saptu bisa menjadi solusi. Bagi dia, sarjana haruslah berpikir untuk bisa membuka lapangan pekerjaan bukan mencari kerja.

Banyak yang bisa dipelajari dari perjalanan hidup dan perjalanan bisnis Saptuari Sugiharto yang kini menjadi Duta Wirausaha Muda Mandiri. Yang pertama, latihlah jiwa kewirausahaan sedini mungkin, dan pergunakanlah masa-masa muda untuk menggali sebanyak mungkin peluang bisnis, sebelum akhirnya menemukan bisnis yang sesuai dengan keinginan atau bahkan hobi kita. Memilih jalan menjadi wiraswastawan berarti harus berani “gila” untuk tidak menggantungkan diri pada orang lain. “Buang rasa malu dan gengsi, jangan takut gagal dan selalu berpikiran positif,” .

Saptuari Sugiharto memberikan resep memulai usaha, yaitu ATM (amati, tiru, dan modifikasi). Dia juga menyarankan agar berbisnis dijalankan dengan pendekatan spiritual dan profesional.

Saptuari Sugiharto

Dari Narsis Jadi Bisnis

Kuliah tak harus mematikan naluri bisnis. Begitulah kredo Saptuari Sugiharto. Pria kelahiran Yogyakarta, 8 September 1979, ini telah membuktikan upayanya melakukan pelbagai aktivitas bisnis di bangku kampus, telah mengantarnya menjadi seorang pengusaha muda seperti sekarang ini.
Saptu (begitu biasanya pria berbadan subur ini dipanggil) mencoba peruntungannya sejak menimba ilmu di Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Berbagai jenis usaha dan pekerjaan, dari penjaga koperasi mahasiswa, marketing radio, pekerja event organizer, berjualan celana, pemasok stiker, sampai berkeliling menjajakan ayam potong, dilakoninya di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa.
Sebagai anak yatim dan bukan berasal dari keluarga berada, Saptu kian bersemangat mencari penghasilan sendiri demi memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membayar uang kuliah. Terbiasa mencari duit sendiri, Saptu pun mantap memilih wirausaha menjadi jalan hidupnya.
Otaknya terus berputar mencari celah bisnis selepas menyelesaikan studinya pada 2004. Akhirnya, dia membuka bisnis merchandise pribadi dan digital printing yang diberi nama Kedai Digital. Pada awalnya kedainya ini hanya memproduksi mug, pin, dan kaus yang dicetak eksklusif dengan foto diri pemesan terpampang di dalamnya.
Bisnis merchandise pribadi dipilihnya dengan alasan setiap orang memiliki sifat narsistis yang perlu mendapat aktualisasi. Semua orang, menurut dia, memiliki keinginan untuk diabadikan. “Konsep Kedai Digital adalah mengelola narsis menjadi bisnis,” katanya kepada Harian Tempo.
Ditambah lagi, Saptu memang gemar akan dunia desain. Menurut dia, berbisnis sesuai dengan hobi membuat suasana menyenangkan dan tidak berat menjalaninya.
Keputusannya menyimpan ijazah sarjana di dalam lemari dan memilih profesi sebagai wiraswastawan kini telah berbuah hasil. Bukan hanya dari sisi materi, Saptu pun mendapat pengakuan dari pihak luar atas kiprahnya tersebut. PT Bank Mandiri Tbk, menganugerahinya sebagai Duta Wirausaha Muda Mandiri. Penghargaan itu diberikan oleh Menteri Koordinator Perekonomian Boediono. Sejak itu, Saptu diberi tugas menyebarkan semangat kewirausahaan kepada generasi muda di seluruh Indonesia.
Saptu membuka Kedai Digital pertamanya berbekal modal awal Rp 28 juta yang diperolehnya dari menguras tabungan pribadi dan meminjam ke bank dengan menjaminkan surat kepemilikan motor miliknya dan sebuah sertifikat rumah. Modal tersebut digunakan untuk membeli komputer, printer, dan membuka gerai di kawasan Demangan, Yogyakarta, yang hanya seluas 2 x 7 meter.
Konsep bikin Merchandise Pribadi yang diusungnya, dengan produk utama adalah Mug! Awalnya hanya dibantu 3 orang karyawan, 3 hari pertama yang laku hanya 2 buah mug!!, namun sekali kaki melangkah, pantang mundur ke belakang!. Namun ternyata Kedai Digital mampu meraih omzet Rp 9 juta pada bulan pertamanya beroperasi. Melihat usahanya sukses, dia memberanikan diri membuka satu cabang pada 2006, masih di kawasan Yogyakarta. Setahun kemudian, Saptu, yang dipanggil karyawannya dengan sebutan Boss King Kong, mulai mengembangkan bisnisnya dengan mengajak mitra.
Alhasil, dengan kerja kerasnya, Kedai Digital beranak-pinak. Total, setelah tiga tahun berjalan, 13 cabang telah berdiri di berbagai kota, seperti di Yogyakarta, Semarang, Kebumen, Sukoharjo, Solo, Tuban, dan Pekanbaru. Kedai Digital selanjutnya tinggal menunggu waktu untuk berdiri di Sampit, Balikpapan, dan Magelang.
Omzetnya kedai Saptu pun melambung. Dia mengatakan omzet tiap-tiap kedai berkisar Rp 10 juta sampai Rp 40 juta. Total, omzet seluruh Kedai Digital mencapai ratusan juta rupiah setiap bulan.
Saptu belum puas. Dia terjun langsung untuk mengembangkan usahanya itu. Produknya kini telah dikembangkan menjadi beragam jenis, seperti bermacam pin, mug, kaus, jam dinding, gantungan kunci, poster, mouse pad, dan id card. Semuanya ada lebih dari 60 varian produk. Saptu pun tak main-main dalam menjaga kualitas produknya. Ia tengah menyusun buku manual untuk mengoperasikan Kedai Digital. “Saya ingin standar pelayanan di semua Kedai Digital sama,” katanya.
Sampai saat ini, Saptu belum mengalami kesulitan untuk mencari pasar. Segmen pasarnya memang sangat beragam karena pada dasarnya semua orang membutuhkan suvenir dan merchandise. Menurut dia, pemesan merchandise dan suvenir di Kedai Digital adalah ibu-ibu hamil sampai keluarga yang ingin mengenang orang meninggal. Kini usahanya mulai membidik segmen korporat.
Bisnis yang dijalaninya ini bukan tanpa hambatan. Bahan baku yang masih didatangkan dari Bandung atau Jakarta yang sering kali tersendat menjadi kendala utama. Selain itu, bisnis merchandise pribadi rawan komplain dari pelanggan. “Karyawan selalu ditekankan untuk memberikan pelayanan,” katanya.
Sukses Kedai Digital juga telah mewujudkan impian Saptu untuk membuka lapangan kerja bagi orang lain. Karyawannya saat ini sudah mencapai 90 orang. “Sebagian besar mahasiswa yang nyambi kerja,”.

5 hal yang bisa dipelajari dari perjalanan hidup dan bisnis Saptuari Sugiharto:

Ke1, latihlah jiwa kewirausahaan sedini mungkin, dan gunakan masa muda untuk menggali sebanyak mungkin peluang bisnis sebelum akhirnya menemukan bisnis yang sesuai dengan keinginan/hobi kita. (Saptu gemar dunia desain, ia yang membuat konsep dan desain seluruh iklan dan marketing Kedai Digital. Menurutnya, berbisnis sesuai dengan hobi membuat suasana menyenangkan dan tidak berat menjalaninya).

Ke2, selalu tersedia celah bisnis (niche) yang bisa digarap serius dan berpeluang untuk berkembang sebagaimana bisnis lainnya.

Ke3, untuk memenangkan persaingan, jagalah kualitas produk & pelayanan dari waktu ke waktu, disertai dukungan tenaga yang andal. (Bisnis Saptuari didukung oleh para mahasiswa yang nyambi kerja).

Ke4, gunakan salah satu resep memulai usaha, yaitu ATM (amati, tiru, dan modifikasi).

Ke5, Saptu juga menyarankan agar berbisnis sejak di bangku kuliah.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: