Beranda > msdm > manajemen 360 derajat

manajemen 360 derajat

Manajemen 360 Derajat
Contributed by Toni Yoyo
Monday, 24 September 2007

Dalam dunia korporasi di barat, mulai populer penggunaan metode evaluasi dan penilaian karyawan yang dikenal
dengan nama 360 derajat (360 degree evaluation/assessment). Berdasarkan metode ini, penilaian seorang karyawan
tidak saja diambil dari penilaian atasan langsung ataupun atasan kedua di atasnya, akan tetapi penilaian juga dimintakan
dari rekan sekerja yang satu level (peer) maupun dari bawahan langsung (subordinate) yang bersangkutan. Memang
kontribusi atau persentase penilaian terbesar tetap berasal dari atasan langsung dan atasan kedua di atasnya.

Dalam dunia korporasi di barat, mulai populer penggunaan metode evaluasi dan penilaian karyawan yang dikenal
dengan nama 360 derajat (360 degree evaluation/assessment). Berdasarkan metode ini, penilaian seorang karyawan
tidak saja diambil dari penilaian atasan langsung ataupun atasan kedua di atasnya, akan tetapi penilaian juga dimintakan
dari rekan sekerja yang satu level (peer) maupun dari bawahan langsung (subordinate) yang bersangkutan. Memang
kontribusi atau persentase penilaian terbesar tetap berasal dari atasan langsung dan atasan kedua di atasnya.

Dengan cara ini bisa dihindari seorang karyawan selalu bersikap ABS (Asal Bapak Senang) ataupun berlaku sebagai
Yes Man untuk mengambil hati dan menjilat atasannya supaya mendapat penilaian bagus dan menjadi kandidat utama
jika ada promosi jabatan, atau mendapat kenaikan gaji yang memuaskan.

Orang seperti ini seringkali berbeda 180 derajat dan bertolak belakang sikapnya jika berhadapan dengan bawahan
ataupun karyawan lain yang lebih rendah levelnya. Dia akan menunjukkan power dan kuasanya sehingga seringkali
memperlihatkan sikap dan kata-kata yang tidak memperhitungkan perasaan orang di bawahnya sama sekali. Kasar,
tidak sabaran, selalu merasa benar, tidak mau dibantah, selalu menyalahkan bawahan, biasa menyuruh, mudah marah
dan lain-lain merupakan ciri khas dan umum bagi mereka yang bermuka manis ke atas sedang di saat yang sama
mengeluarkan angin ribut ke arah belakang dan bawahnya.

Tipe orang demikian juga tidak akan memandang rekan sekerjanya yang satu jabatan/level apalagi jika rekan tersebut
tidak ada kaitan kerja langsung dengan dirinya. Biasanya dia merasa tidak perlu berbaik hati, menawarkan bantuan,
mengikuti perkembangan pekerjaan rekannya, tidak punya beban walaupun berbicara sekenanya, dan lain-lain sikap
dan tingkah laku yang muncul karena merasa rekan sekerjanya tersebut tidak berperan dalam penentuan karirnya.

Akan tetapi jika penilaian terhadap dirinya juga datang dari rekan sekerja yang selevel walaupun tidak dalam satu
departemen, sehingga tidak memiliki keterkaitan vertikal dalam karirnya, dia akan memberikan perhatian lebih dan
mungkin malah siap membantu jika diperlukan.

Demikian pula jika bawahannya ikut serta menilai sehingga berperan dalam menentukan kelangsungan karirnya maka
setiap karyawan akan terdorong, walaupun mungkin awalnya terpaksa, untuk memperhatikan serta memperlakukan
bawahannya secara lebih bermartabat.

Jika sudah terbentuk relasi kerja dan interaksi yang demikian kontruktif antara seorang pekerja dengan tidak hanya
atasannya melainkan juga dengan rekan sekerja lain dan bawahannya, dapat dibayangkan sinergi yang akan terbangun
dalam perusahaan tersebut. Bukankah roda perusahaan seperti ini akan berputar dengan lebih nyaman dan lancar
karena gemuk dan olinya tersedia dalam jumlah yang memadai dan dalam kondisi bagus ?.

Di suatu perusahaan di satu negara pernah diadakan kontes untuk mencari karyawan yang dianggap paling
berkontribusi dan berharga bagi perusahaan. Ternyata karyawan terbaik yang terpilih adalah salah seorang dari tim
pendukung (supporting unit) dari bagian bersih-bersih yaitu seorang karyawan yang bertugas menyiapkan minuman bagi
siddhi
http://www.siddhi.web.id Powered by Joomla! Generated: 25 November, 2008, 13:31
karyawan lain sekaligus membersihkan meja kerja mereka. Orang ini juga yang biasa dimintai tolong untuk
mengantarkan surat atau memo, memfoto-copy dan bantuan-bantuan kecil lainnya.

Oleh kebanyakan karyawan, pekerja di bagian supporting kurang dihargai dan diperhatikan. Tidak jarang mereka hanya
mengenal namanya, itupun hanya nama panggilan bukan nama lengkap. Jangan tanya apakah mereka tahu tentang
keluarganya, tempat tinggalnya dan hal-hal kecil lain mengenai pekerja yang seringkali kurang dipandang oleh karyawankaryawan
lain karena mereka merasa dirinya lebih tinggi dan berharga dari pekerja bagian bantu-bantu ini.

Malah tidak jarang ucapan terima kasihpun begitu sulit dan mahal untuk dikeluarkan meski mereka hampir setiap hari
mendapat pertolongan-pertolongan kecil dari si kecil ini apakah dalam bentuk minuman yang sudah tersedia, meja yang
sudah mengkilap, ataukah fotocopy yang tidak perlu repot dilakukan sendiri. Pernahkan mereka bayangkan jika harus
mengerjakan sendiri semua pekerjaan-pekerjaan kecil tersebut setiap hari ? Bukankah waktu dan perhatian mereka
akan berkurang sehingga berbagai hasil kerja dan prestasi yang selama ini mampu mereka tampilkan bisa jadi akan
menurun ?.

Dengan berbagai pertimbangan tersebut maka perusahaan akhirnya memilih salah satu dari karyawan kecil ini untuk
menerima penghargaan bergengsi itu sekaligus untuk memperlihatkan bahwa tidak ada pekerja yang tidak memiliki
kontribusi bagi perusahaan. Semua karyawan jika menjalankan tugasnya dengan baik berarti dia mendukung pula
pekerjaan orang lainnya sehingga secara langsung maupun tidak langsung menentukan kinerja keseluruhan perusahaan.

Di Indonesia, kita masih asing dengan cara penilaian 360 derajat ini. Sebenarnya jika prinsip-prinsip tersebut
dipraktekkan tidak hanya dalam kehidupan profesional sebagai pekerja, tetapi juga dalam kehidupan sosial
kemasyarakatan sehari-hari maupun dalam lingkungan religius, bukankah keberhasilan dan penerimaan yang lebih luas
terhadap diri kita akan lebih banyak kita raih ?.

Sang Buddha membabarkan Sigalovada Sutta kepada pemuda Sigala yang ditemui pagi-pagi sekali sedang
memberikan penghormatan ke empat penjuru mata angin dan langit (atas) serta bumi (bawah). Penghormatan tersebut
dilakukan oleh Sigala karena menuruti pesan ayahnya sewaktu akan meninggal, tetapi sebenarnya dia tidak tahu persis
arti penghormatan yang dilakukan setiap pagi hari tersebut.

Sang Buddha kemudian menjelaskan bahwa penghormatan ke enam arah mengartikan :

” Ayah dan Ibu sebagai arah Timur.

” Guru sebagai arah Selatan.

” Istri/Suami dan Anak sebagai arah Barat.

” Sahabat dan Relasi sebagai arah Utara.

” Pelayan dan Buruh sebagai arah Bawah (Bumi).

” Para Pertapa dan Orang-Orang Suci sebagai arah Atas (Langit).

Penghormatan ke semua orang tersebut sebenarnya bukan hanya dilakukan dalam bentuk penghormatan secara fisik
setiap pagi ke enam arah, akan tetapi yang terpenting adalah prakteknya dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana kita
membalas orang tua kita yang sudah begitu banyak berjasa dalam kehidupan kita dari sejak masih dalam kandungan
sampai dengan sekarang. Guru-guru, baik yang mengajarkan agama maupun pengetahuan umum, sudah begitu banyak
memasukkan pengetahuan dalam diri kita sehingga kita menjadi tidak buta lagi. Pasangan dan keturunan kita yang
bersama-sama membentuk satu keluarga yang baik. Para sahabat dan relasi yang mendukung kita selama ini baik
dalam suka maupun duka. Demikian pula jangan pernah melupakan para Pertapa dan Orang Suci yang telah
siddhi
http://www.siddhi.web.id Powered by Joomla! Generated: 25 November, 2008, 13:31
memberikan contoh teladan bagi kita untuk memperbanyak perbuatan baik dan menempuh kehidupan benar. Yang
terakhir, walaupun mereka ada di bawah, akan tetapi kontribusi mereka tidaklah kecil dalam kehidupan dan keberhasilan
kita yaitu para pelayan, buruh maupun pembantu kita.

Penghormatan dan penghargaan kita kepada mereka semua tidak harus diartikan hanya dalam bentuk harta benda dan
materi semata, akan tetapi juga tidak kalah penting dalam bentuk lunak (soft things), seperti ucapan yang sopan dan
ramah, senyum, pujian dan ucapan terima kasih yang tulus, perhatian, sapaan selamat pagi-siang-sore-malam, dan
banyak lagi bentuk-bentuk non-kebendaan lainnya.

Jika kita mampu mempraktekkan bentuk-bentuk penghormatan yang sudah diajarkan oleh Guru Agung kita terhadap
orang-orang yang telah berjasa dalam kehidupan kita, bukankan kita akan menjadi orang-orang besar yang tahu
berterima kasih dan akan merasa aman kemanapun kita pergi dan dimanapun kita berada ? Berbagai keberhasilan
dalam dunia kerja/usaha maupun dalam menjalani kehidupan sosial kemasyarakatan sehari-hari dan di lingkungan
religius, juga akan lebih mudah kita raih karena mendapat dukungan tulus dari orang-orang di sekitar kita.

Manajemen moderen baru mengadopsi apa yang sudah diajarkan oleh Buddha Gautama 2.500 tahun yang lalu. Jangan
kita ketinggalan untuk berpraktek memperlebar lingkaran penghormatan dan rendah hati kita kepada mereka-mereka
yang sejajar maupun yang berada di bawah kita, tidak hanya melulu kepada orang-orang di atas kita.

Kategori:msdm
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: