Beranda > kewirausahaan lanjutan > Mereka Mau Hidup Seribu Tahun Lagi

Mereka Mau Hidup Seribu Tahun Lagi

Mereka Mau Hidup Seribu Tahun Lagi

Mereka tetap jaya karena cerdas membaca kemauan pasar, cepat memodernisasi dan cakap membuat inovasi . . .

Jamu Jago (1918)

Perusahaan keluarga ini telah menembus pasar lokal dan internasional dan sukses hingga generasi keempat. Awal mulanya jamu jago membuat terobosan (racikan ditumbuk, lantar dikemas kecil-kecil supaya praktis). Pada 1949 menetapkan pabrik di Semarang, karena berada posisi akses yang strategis (transportasi darat dan laut). Saat ini, meluncurkan produk baru, jamu yang mengandung sayuran dengan membidik konsumen anak-anak.

PT Sido Muncul

Memproduksi jamu lebih praktis yaitu dengan memproduksi jamu dalam bentuk serbuk. Kesuksesan diraihnya dengan menghindari sebisa mungkin konflik internal dan menggunakan product branded / motto (ex: orang pintar minum tolak angin)

PT Nyoya Meneer

Mampu bertahan dengan menggunakan inovasi kreatif salah satunya menggunakan pemasaran modern lewat Meneer Cafe yang bertebaran di beberapa pusat belanja.

PT Jamu Iboe Jaya

Awal usaha dirintis mengedepankan sisi kemasan produk, menggunakan kemasan kertas roti dan seiring perkembangan jaman diganti dengan aluminum foil. Dan menggalakan riset laboratorium untuk membuat jamu bermutu tinggi.

Rokok Kretek Dji Sam Soe (1913)

Pemilihan kata ‘sampoerna’ memiliki filosofi makna ganda, sempurna dan hurufnya berjumlah sembilan yang memiliki makna angka keberuntungan menurut orang cina. Pemilik berpedoman, tidak boleh ada rokok yang menginap di pabrik meski sebagai persedian. Putra Sampoerna, melakukan terobosan dengan meniadakan agen dari rantai distribusi, ia membuat fasilitas produksi terpadu seluas 153 hektare dan ia juga mengubah usaha menjadi perusahaan terbuka. Kunci keberhasilan penjualannya terletak pada konsistensi perusahaan dalam mengkomunikasikan kualitas merek ke pelanggan sehingga menciptakan loyalitas konsumen. Melakukan inovasi, adanya tantangan di depan, faktor kesehatan akan menjadi momok serius, sehingga muncul inovasi produk bernama A Mild.

Namun, empat tahun lalu, saat berada di puncak kejayaan, Putra melepas 40 persen saham HM Sampoerna ke Philip Morris.

Minak djinggo (1930)

Komunikasi pemasarannya masuk lewat pergelaran musik dangdut yang marak di awal tahun 2000-an, dan membidik segmen pasar kelas menengah ke bawah.

Bentoel (1935)

Bentoel merintis jalan menjadi perusahaan roknl modern dengan memperkenalkan mesin linting berfilter dan menjadi produsen rokok pertama yang memakai mesin.

Taru Martani (1918)

Bahan baku cerutu ini murni di buat dari tembakau di kawasan besuki, jember, jatim.

Sabun Cuci B29 (1930)

Tujuan B29 awalnya adalah semata membuat sabun banyak dan dijual semurah mungkin sehingga lebih ke misi sosial. Produknya berbentuk krim, atau lebih dikenal dengan sabun cuci saat sabun bubuk mewabah di indonesia pada dekade 1970. Selain harganya murah, sabun itu banyak manfaatnya, bisa membersihkan piring, pakaian hingga cuci motor. Langkahnya untuk melakukan ekspor mendapat keuntungan. B29 mengandalkan mutu dan sebagian besar dana perusahaan digunakan untuk riset dan pengembangan ketimbangan promosi. Pesan pendiri B29 adalah jangan ada PHK sesulit apapun.

Kopi Warung Tinggi (1878)

Warung Tinggi bukan lagi sekadar toko kopi, melainkan “gaya”. Pendiri kopi ini merancang alat khusus yang mampu menggoreng lebih banyak biji kopi hingga matang secara merata. Untuk bisa dinikmati, kopi membutuhkan perlakuan khusus. Kopi Warung Tinggi hanya menjual kopi dengan kualitas terbaik, tidak pakai pewangi, dan oleh sebab itu harganya mahal karena menjaga orisinalitas. Rahasia umur panjang, adalah kemampuan mempertahankan kualitas campuran.

Kopi Kapal Api (1927)

Memulai usaha di Surabaya, saat ini Kapal Api memodernkan diri dengan mengganti mesinnya dengan yang lebih canggih, menerapkan manajemen modern dalam perusahaan, dan memperluas wilayah pemasaran. Salah satu langkah besar adalah beriklan di siaran niaga TVRI dengan mengontrak pelawak terkenal. Dan kini menguasai 40 persen pasar kopi nasional.

Teh Cap Botol (1940)

Salah satu bisnis keluarga yang tetap subur hingga generasi ketiga. Cerdas mengantisipasi pasar di tengah k persaingan yang kian ketat.

Mereka berupaya mengeksplorasi tren minuman untuk tiap generasi, dengan mengeluarkan varian produkny, STee, Fruit Tea, Tebs, Joy Tea Green dll. Filosofi Sosro, yaitu niat baik, dengan tujuan menghasilkan minuman yang aman bagi kesehatan serta ramah lingkungan. Ketatnya uji mutu untuk memastikan rasa Teh Botol Sosro, dan masifnya jaringan Sosro hingga ke pelosok membuat Teh ini sulit tersaingi. Kini target mereka lebih mengoptimalkan kapasitas produksi pabrik ketimbang memperluas pasar domestik. Regenerasi manajemen Sosro juga terus dilakukan. Pengembangan perusahaan tak lagi melulu diurus oleh pihak keluarga, tapi juga para profesional dari luar. Sosro mengandalkan filosofi Niat Baik dan aturan berbisnis yang sangat benar, seperti jangan curang, tepat janji, jangang ngemplang utang serta etos kerja yang baik.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: