Beranda > Etika Bisnis > kelompok 10

kelompok 10

  1. Hak dan deontologi

William T.Blackstone mengajukan pikiran bahwa setiap manusia berhak atas lingkungan berkualitas yang memungkinkan dia untuk hidup lebioh baik. Lingkungan yang berkualitas tidak saja merupakan sesuatu yang sangat diharapkan, tetapi juga sesuatu yang harus direalisasikan karena menjadi hak setiap manusia. Namun hak moral ini baru tampil ke permukaan, tetapi secara implisit selalu sudah ada. Tetapi kalau hak ini sungguh-sungguh ada, orang lain wajib memenuhinya. Dan hal itu baru menjadi aktual dalam situasi kita sekarang.

Hak dalam arti yang sebenarnya selalu mengandaikan subyek yang rasional dan bebas, jadi manusia yang hidup. Hanya saja, dengan menyangkal adanya hak-hak ini, kita tidak menyangkal adanya kewajiban untuk mewariskan lingkungan hidup yang berkualitas kepada generasi yang akan datang dan kewajiban untuk menjaga keanekaragaman hayati. Sumber bagi kewajiban kita di sini dalaha tanggung jawab kita terhadap generasi-generasi sesudah kita dan keanekaragaman hayati, bukan hak-hak mereka.

  1. Utilitarisme

Teori utilitarisme dapat dipakai juga guna menyediakan dasar moral bagi tanggung jawab kita untuk melestarikan lingkungan hidup. Menurut utilitarisme, suatu perbuatan (atau aturan) adalah baik,kalau membawa kesenangan paling besar untuk jumlah orang paling besar atau -dengan kata lain- kalau memaksimalkan manfaat.

Dalam perspektif utilitarisme, sudah menjadi jelas bahwa lingkungan hidup tidak lagi boleh diperlakukan sebagai suatu eksternalitas ekonomi.

  1. Keadilan

Pendasaran bagi tanggung jawab untuk melestarikan lingkungan hidup, dapat dicari juga dalam tuntutan etis untuk mewujudkan keadilan. Kalau begitu, keadilan di sini harus dipahami sebagai keadilan distributif, artinya keadilan yang mewajibkan kita untuk membagi dengan adil.

Terdapat beberapa cara, tetapi tidak mustahil ada cara lain lagi untuk mengaitkan keadilan dengan maslah lingkunagn hidup

a. Persamaan

Lingkungan hidup harus dilestarikan, karena hanya dnegna acara memakai sumber daya lam itulah memajukan persamaan (equality), sedangkan cara memanfaatkan alam yang merusak lingkungan mengakibatkan ketidaksamaan, karena membawa penderitaan tambahan khususnya bagi orang yang kurang mampu.

b. Prinsip penghematan adil

Kita tidak berlaku dengan adil, bila kita mewariskan lingkungan yang rusak kepada generasi-generasi sesudah kita. Untuk itu kita merumuskan the just savaings principle, “prinsip penghematan adil”. Artinya, kita harus menghemat dengan memakai sumber daya, sehingga masih tersisa cukup gabi generasi-generasi yang akan datang.

c. Keadilan sosial

Pelaksanaan keadilan sosial justru tidak tergantung pada kemauan orang yang tertentu, melainkan pada struktur-struktur yang terdapat dalam masyarakat di bidang politik, sosial, ekonomi, kultural, dll.

Keadilan sosial di sektor pelayanan kesehatan -misalnya- cukup terwujud di negara yang mempunyai sistem asuransi kesehatan nasional, sehingga semua warganya tercakup.

Keadilan sosial dalam konteks lingkungan hidup barangkali lebih mudah terwujud dengan kesadaran atau kerja sama semua individu, ketimbang keadilan sosial pada taraf perburuhan, karena pertentangan kelas dan kepentingan pribadi di sini.

5. Implementasi terhadap tanggung jawab lingkungan hidup

Tanggung jawab moral untuk melindungi lingkungan harus dipertimbangkan terhadap faktor-faktor lain, khususnya kegiatan-kegiatan ekonomis.

  1. Siapa yang harus membayar ?

Setiap tindakan untuk melindungi atau memperbaiki lingkungan mempunyai konsekuensi finansial. Akibat finansial ini dibebankan kepada si pencemar dan yang menikmati lingkungan bersih. Lingkungan yang bersih dan sehat menjadi tanggung jawab kita semua, tapi terutama bagi mereka yang mengakibatkan polusi. Pada skala global, negara-negara industri maju harus memberikan kontribusi paling besar dalam membiayai lingkungan hidup yang bersih dan sehat, karena mereka yang paling banyak mengakibatkan paling banyak pencemaran.

  1. Bagaimana beban dibagi?

Agar beban finansial dibagi secara adil harus dilakukan oleh pemerintah bekerja sama dengan bisnis. Maka bisa memanfaatkan instrumen ekonomis seperti mekanisme pasar. Tiga cara yang telah di usahakan :

a. Pengaturan

Membuat peraturan mengenai polusi dari industri, dimana peraturan ini dapat dilaksanakan secara hukum dan apabila ada yang melanggar dikenakan sanksi.

b. Insentif

Memberikan insentif kepada industri yang bersedia mengambil tindakan khusus untuk melindungi lingkungan. Dengan memberikan penghargaan bagi perusahaan yang mempunyai jasa khusus dalam memperbaiki lingkungan.

c. Mekanisme harga

Mekanisme harga memungkinkan beberapa variasi sesuai dengan situasi. Dimana disini si pencemar lah yang harus membayar. Karena dengan demikian beban dimasukkan dalam biaya produksi, yang mengakibatkan harga produk menjadi lebih mahal.

3. Etika dan hukum lingkungan hidup

Etika secara logis mendahului hukum dan refleksi etis selalu harus mendampingi dan menilai hukum. Kepatuhan terhadap norma hukum tidak bisa dipaksakan, terutama itu dalam konteks lingkungan hidup ini membutuhkan peraturan hukum. Sistem peraturan yang baik harus juga dilaksanakan. Dimana apabila ada yang melanggar peraturan tersebut dikenai sanksi berupa membayar denda. Tapi bagi para pelaku industri, menguntungkan membayar denda yang relatif kecil daripada membangun instalasi mahal ntuk mengurangi polusi. Tapi bisnis mempunyai tanggung jawab positif untuk mengajukan pelestarian lingkungan hidup. Bisnis wajib memberi konstribusi kepada perbaikan dan pelestarian lingkungan hidup. Peranan lembaga-lembaga konsumen pun dapat menilai produk dan jasa dari sudut pandang dampak polusi terhadap lingkungan serta memberi penyuluhan terhadap masyarakat.

  1. Beberapa kasus lingungan hidup
  1. Musibah reaktor nuklir di Chernobyl

Pada 26 April 1986 terjadi kecelakaan dasyat dengan reaktor no.4 di kompleks Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Chernobyl, Ukraina, suatu republik di Uni Soviet. Terjadi dua ledakan, dan salah satunya diperkirakan ledakan nuklir. Bahan radioaktif yang terlepas diperkirakan tiga kali lebih besar dari pemboman di Hiroshima.

Kemudian diketahui bahawa pengelolaan PLTN Chernobyl ini mempunya banyak kekurangan. Mereka juga tidak sipa terlatih dalam keadaan darurat. Sesudah kecelakaan tidak langsung diberikan peringatan kepada masyarakat.

Dampak musibah nuklir ini dirasakan bukan saja di Ukraina dan republik-republik Uni Soviet lainya, tapi praktis di s eluruh Eropa. Imbasnya antara lain kira-kira 130.000 penduduk di sekitar lokasi harus dipindahkan secara permanen, lebih kurang 400 hektar hutan pinus hancur, 3 sungai tercemar radioaktif, hasil bumi, daging sapi, susu sapi dan yang lainnya ikut terkontaminasi. Bahkan menurut perkiraan beberapa ahli, 50 tahun setelah kecelakaan antara 50.000 dan 250.000 orang di bekas Uni Soviet dan seluruh Eropa akan meninggal karena kanker dan penyakit lain yang disebabkan oleh musibah di Chernobyl.

  1. PT Inti Indorayon Utama dan Danau Toba

Pada 19 Maret 1999 Presiden B.J.Habibie menghentikan sementara kegiatan operasional industri bubur kertas (pulp) dan serat rayon pengganti kapas pada PT Inti Indorayon Utama (PT UII) yang terletak di Sosor Ladang, kecamatan Porsea, Kabupaten Toba Samosir. Karena kegiatan PT UII dinilai sebagai penyebab utama kerusakan di sekitar Danau Toba, yang permukaan airnya menurun drastis.

Menurut R.Zainuddin, dalam permasalahan sekitar Danau Toba ada tiga hal yang penting. Pertama, penurunan debit musim kemarau anak sungaiyang mengalir ke danau. Kedua, penurunan permukaan air danau yang berdampak negatif pada penggunaan air oleh nelayan, pariwisata, dan penggunaan air oleh nelayan, pariwisata, pengusaha transportasi. Dan ketiga, pencemaran.

Tetapi peristiwa tragis sekitar pabrik Indorayon ini mempunyai dampak besar juga atas semua orang yang selama ini menggantungkan hidupnya pada perusahaan itu. Sebelum pabrik di bangun di sana, Sosor Ladang adalah desa kecil yang meliputi 200 Kepala Keluarga, tetapi kemudian berkembang menjadi kota mini. Pada tanun 1999 perusahaan masih menbayar gaji kepada kira-kira 6000 karyawan.

  1. Kecelakaan kapal tanki Exxon Valdez

Sering terjadi kecelakaan dengan tangki minyak yang mencemari laut dan daerah pantai. Kecelakaan paling besar dalam sejarah Amerika Serikat terjadi pada malam 23-24 Maret 1989, ketika kapal raksasa Exxon Valdez, milik perusahaan minyak Exxon, kandas pada Bligh Reef dalam Selat Prince William Sound, Alaska. Kira-kira 41 juta liter minyak bumi, sekitar 27% dari seluruh muatan mengalir ke dalam laut dan mencemari kawasan ekologis yang sangat berharga itu. Menurut perkiraan, 6000 singa laut mati (60% dari seluruh populasi), di samping 750.000 burung laut (35%) dan 700 bald eagles (30%).Hasil pengkapan ikan juga turun drastis setelah kecelakaan.

Kategori:Etika Bisnis
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: