tki

Kenyataannya, rakyat khususnya masyarakat lapisan bawah sekarang ini banyak yang mengalami kemiskinan, bahkan kemiskinan akut. Di mana lapangan kerja adalah barang langka, dunia usaha-khususnya dalam sekala kecil dan menengah- juga mengalami persoalan yang tidak mudah dipecahkan. Akses ke sumber-sumber strategis hanya dimiliki segelintir orang dan satu dua pihak saja. Sementara rakyat kebanyakan hidup dalam kondisi pas-pasan. Indonesia adalah salah satu sumber tenaga kerja yang terbesar di dunia. Sebagai solusi yang dipilih sebagian rakyat kita, dalam catatan Depnakertrans, buruh migran Indoesia resminya mencapai lebih 400.000 jiwa, dan yang tak resminya bisa mencapai beberapakali lipatnya, tengah berada di luar negeri. Jalan berliku yang dihadapi buruh migran Indonesia mengejar hujan emas di negri orang menguras perhatian. Baik dari proses perekrutan, karantina, penempatan, perlindungannya dan proses kembali ke tanah air. Mungkin cerita tentang buruh migran sudah banyak dikedepankan. Baik cerita sukses maupun buram.

Dalam benak para buruh migran hanya satu, mereka ingin mengubah nasib. Alasan ekonomi, kerap lebih dominan. Himpitan ekonomi yang tak berkesudahan membuat mereka, diantaranya, memilih menjadi buruh migran. Mereka tahu bahwa itu seperti berjudi. Bertaruh dengan penuh harapan karena di negeri seberang berharap hidup akan berubah, bisa bayar utang, membantu keluarga, bikin rumah atau jika masih lebih untuk modal usaha. Pasrah, karena sebenarnya tak tahu harus kemana. Mengapa mesti keluar negeri? Seolah negeri ini tak ada lagi tempat berpijak, tak tahu apa yang akan mereka kerjakan dan nasib apa yang akan menimpa.

Di Indonesia kehidupan sebagai petani sawah dirasakan tidak lagi menjanjikan bagi masyarakatnya. Untuk bekerja di sektor lain pun sudah susah untuk diperoleh. Oleh karena itu, wajar kiranya daerah ini menjadi salah satu daerah di Indonesia yang menjadi sumber TKI untuk pergi ke luar negeri. Dalam usaha untuk memperoleh peluang kerja di luar negeri atau menjadi TKI dilalui oleh masyarakat dengan berbagai cara. Ada calon TKI yang mencari melalui cara dengan perantara yang tidak resmi yang secara luas dikenal dengan istilah calo. Gaji yang tinggi dan godaan yang menggiurkan sering memicu orang untuk mencari cara yang paling mudah supaya dapat pergi ke luar negeri. Akan tetapi, banyak beberapa pencari kerja menggunakan saluran khusus yang disediakan pemerintah, yaitu melalui agen rekrutmen yang secara resmi ditunjuk oleh pemerintah yang disebut dengan Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI).

Bagi pemerintah Indonesia, arus TKI ke luar negeri adalah salah satu cara untuk mengatasi masalah pengangguran serta memberikan konstribusi bagi pemasukan devisa negara. Diperkirakan bahwa setiap tahun pemasukan devisa sebesar US$ 2,6 juta dibawa masuk ke dalam negeri oleh para TKI yang bekerja di luar negeri(Darwin, dkk., 2005: 280). Akan tetapi, sejauh dapat diamati, dalam proses perekrutan dan proses penempatan TKI selalu menjadi pihak yang dirugikan. Belum lagi banyak masalah yang berkaitan dengan biaya yang harus ditanggung oleh calon TKI sebelum pergi ke luar negeri. Di samping itu, kepastian hukum untuk menjamin keselamatan para TKI juga belum menjadi
prioritas para TKI.

Ada beberapa faktor penarik Malaysia sebagai tujuan para TKI dari Indonesia, yakni faktor geografis dan faktor budaya. Secara geografis, Malaysia merupakan negara tetangga terdekat Indonesia. Hal ini akan berkaitan dengan transportasi yang relatif mudah, murah dan cepat. Kemudahan ini juga terkait dengan transportasi yang tersedia, baik melalui laut maupun melalui udara. Kedua jalur transportasi yang juga didukung dengan ketersediaan sarana transportasi yang cukup banyak. Faktor geografis yang lain adalah berkenaan dengan cuaca yang ada di negara Malaysia. Kondisi cuaca Malaysia dengan Indonesia relatif sama, hanya terdapat dua musim saja. Selain faktor geografis, faktor budaya juga merupakan hal yang penting sebagai daya tarik Malaysia sebagai negara tujuan TKI. Sebagaimana diketahui bahwa, dari segi kebudayaan, antara negara Malaysia dengan Indonesia tidak banyak perbedaan. Secara khusus adalah adanya kesamaan bahasa, yakni bahasa Melayu. Berbeda halnya dengan negara-negara tujuan TKI yang lain, seperti Hongkong, Korea, dan Timur Tengah. Negara negara ini mempunyai bahasa yang jauh berbeda dengan bahasa Indonesia.

Dengan adanya kesamaan budaya tersebut, juga mempermudahkan para TKI untuk cepat beradaptasi dengan lingkungan baru. Hal ini karena faktor yang dapat mempercepat seseorang untuk cepat beradaptasi dengan lingkungan yang baru adalah bahasa. Dengan kesamaan bahasa akan terjalin komunikasi yang bisa langsung dipahami.

Selain faktor penarik di atas, para TKI dipengaruhi oileh faktor pendorong yang menyebabkan mereka memilih Malaysia sebagai tempat untuk bekerja. Imigran biasanya mempunyai alasan-alasan tertentu yang menyebabkan mereka meninggalkan kampung halamannya dan seterusnya memilih tempat-tempat yang mereka anggap dapat memenuhi keinginan yang kurang atau tidak dapat terpenuhi kalau sekiranya tetap bertahari di tempat asal. Adalah karena faktor ekonomi, serta wujudnya keinginan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi. Sebagian kecil saja, karena alasan mengikuti keluarga. Banyak penduduk negara berkembang bekerja di negara maju karena mereka kurang atau tidak memperoleh peluang ekonomi yang layak di negara asalnya.

Dijelaskan tentang beberapa faktor pendorong TKI memilih Malaysia sebagai negara tujuan untuk mencari nafkah. Pertama, faktor dorongan ekonomi. Malaysia mengandalkan buruh migrant dari Indonesia, Bangladesh, Filipina, India, dan Vietnam untuk memenuhi permintaan tenaga kerja. Orang Indonesia merupakan kelompok terbesar pekerja asing (83 persen) dan mempunyai sejarah panjang untuk bekerja di Malaysia. Gaji atau upah ditawarkan untuk bekerja di Malaysia memang diakui lebih baik daripada upah di Indonesia. Maka tidaklah berlebihan jika kemudian program TKI itu lebih menarik dan pada program transimigrasi. Karena transimigrasi itu seolah-olah membuang mereka ke luar Jawa. Sedangkan TKI tidak demikian. Menjadi TKI merasa pergi ke suatu tempat, kemudian memperkaya kampung halamannya dengan mengirim uang,membangun rumah dan sebagainya. Alasan lain memberi tambahan jawaban, menjadi TKI itu akan memperoleh pengalaman. Pengalaman yang dimaksud bukanlah pengalaman di bidang pekerjaannya di Malaysia yang kemudian nanti bermanfaat bagi pekerjaannya setelah menjadi TKI, melainkan pengalaman di luar pekerjaannya, misalnya telah pernah pergi ke luar negeri dengan berbagai hal yang pernah mereka lihat. Karena itu salah satu makna positif pengiriman TKI ke luar negeri agar memperoleh penyerapan teknologi yang bermanfaat bagi mereka ketika tidak lagi menjadi TKI tidaklah terlihat. Serta keinginan hidup mandiri yang tidak ingin menggantungkan orang tua. Kedua, faktor dorongan cerita tentang negeri yang penuh menjanjikan. Cerita yang berkembang di masyarakat tentang bekerja di luar negeri beragam. Ada yang tersebar cerita bahwa bekerja di luar negeri tidak ada bedanya dengan bekerja di dalam negeri. Jika hati-hati dan telaten, bekerja di dalam negeri juga akan menghasilkan uang, meskipun tidak sebesar bekerja sebagai TKI ke luar negeri, tetapi karena biaya hidup di dalam negeri relatif lebih rendah, maka hasilnya sama saja dengan bekerja ke luar negeri. Di samping itu, juga tidak banyak cerita yang beredar bahwa bekerja ke luar negeri menjadi TKI akan dapat mengumpulkan uang lebih banyak. Cerita ini didukung dengan banyaknya para TKI yang pulang dari luar negeri
memperlihatkan keberhasilannya.Ketiga, faktor dorongan pribadi dan keluarga. Sebagian besar TKI bekerja ke Malaysia itu atas kemauan diri sendiri. Mereka Yang Kreatif Sepulang Jadi TKI, Ketika pulang jadi TKI, bagaimana menyiasati kehidupan selanjutnya, ini perlu keseriusan. Kreatif sepulang jadi TKI memang tidak mudah, karena tidak semua orang bisa menggunakan uang yang ada untuk keperluan usaha. Memang paling mudah dengan membeli sawah. Karena alasan utama menjadi TKI adalah ekonomi, membuat hidup lebih baik, untuk bayar utang dan sisanya bisa dijadikan modal. Tapi tidak semua TKI bisa melakukannya.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, oleh karena kurang tersedianya lapangan pekerjaan dan murahnya upah tenaga kerja di Indonesia secara, maka banyak masyarakat yang menjadi TKI. Banyak pencari kerja tersebut menggunakan saluran khusus yang disediakan pemerintah, yaitu melalui agen rekrutmen yang secara resmi ditunjuk oleh pemerintah yang disebut dengan
Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI).

“ … Jadi TKI Kiat Rakyat Hadapi Kemiskinan ..“

About these ads
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: