definisi dan jenis inovasi

  1. DEFINISI INOVASI

Kata inovasi dapat diartikan sebagai “proses” dan atau “hasil” pengembangan dan/atau pemanfaatan / mobilisasi pengetahuan, keterampilan (termasuk keterampilan teknologis) dan pengalaman untuk menciptakan atau memperbaiki produk (barang dan/atau jasa), proses, dan/atau sistem yang baru, yang memberikan nilai yang berarti atau secara signifikan (terutama ekonomi dan sosial)

Inovasi sebagai suatu “obyek” juga memiliki arti sebagai suatu produk atau praktik baru yang tersedia bagi aplikasi, umumnya dalam suatu konteks komersial. Biasanya, beragam tingkat kebaruannya dapat dibedakan, bergantung pada konteksnya: suatu inovasi dapat bersifat baru bagi suatu perusahaan (atau “agen/aktor”), baru bagi pasar, atau negara atau daerah, atau baru secara global. Sementara itu, inovasi sebagai suatu “aktivitas” merupakan proses penciptaan inovasi, seringkali diidentifkasi dengan komersialisasi suatu invensi.

Istilah inovasi memang sering didefinisikan secara berbeda, walaupun pada umumnya memiliki pemaknaan serupa Read more…

amazone

Keuntungan Dan Kekurangan Berbelanja Online Di Amazon
November 29th, 2008 by Daemors | Filed under Amazon, Blogging.

Sudah pernah berbelanja atau membeli suatu produk secara online di Internet?. Well, di jaman yang katanya serba canggih ini dengan adanya kemudahan ber-internet, salah satu pengaruhnya adalah perubahan perilaku orang dalam hal berbelanja. Karena dengan berbelanja secara online dapat memudahkan kita dalam membeli sesuatu barang sehingga tidak harus pergi ke pasar, toko ataupun mall untuk membeli barang yang kita inginkan. Saya sendiri seringkali melakukan transaksi pembelian secara online, walaupun hanya sekedar membeli kaos, aksesoris komputer atau bahkan membeli airsoft. Di dunia ahmad dhani maia ini banyak sekali bertebaran toko2 online yang menjual berbagai macam barang atau produk. Salah satunya sudah cukup terkenal di internet adalah AMAZON.
Read more…

Kategori:Uncategorized

emmis

A.PENDAHULUAN

Emmis Communications adalah sebuah wirausaha kecil yang mampu membuat lompatan menjadi perusahaan internasional yang jauh lebih besar dengan memegang beberapa media. Studi perubahan manajemen ini mendeskripsikan pendekatan sistematis yang dilakukan Emmis Communication untuk membuat merek perusahaan khusus dan budaya prestasi sembari memperpanjang reputasi positif yang telah didapatkan.
Dibawah kepemimpinan Jeff Smulyan, seorang yang visioner dan memiliki jiwa wirausaha, organisasi ini melaksanakan proses yang lebih jauh dalam mendefinisikan strategi, struktur perusahaan, dan budayanya. Menggunakan berbagai macam proses, Emmis memberi kejelasan dan fokus perusahaan untuk mengarahkan prestasi bisnis.
Tujuan dari makalah ini adalah agar pembaca mengerti cara, pendekatan, dan proses yang dilakukan Emmis Commuincation dalam melaksanakan perubahan organisasionalnya. Selain itu juga tipe kepemimpinan apa yang diterapkan, serta strategi ekspansi usaha yang dijalankan Emmis Communications, dalam hal ini merger dan akuisisi.

B.CONTOH KASUS: EMMIS COMMUNICATIONS

INTRODUCTION: RAPID GROWTH TO A MID-CAP
Emmis Communication Corporation adalah perusahaan radio terbesar ke 6 berdasarkan jumlah pendengarnya. Didirikan pada 1980, Emmis Communication meluncurkan stasiun radio pertamanya WENS-FM pada Juli 1981. Saat Emmis mendapatkan semakin banyak stasiun radio di penjuru negeri, reputasinya ditetapkan sebagai pemimpin dan inovator industri radio.
Read more…

umkm

PEMBERDAYAAN UMKM
MELALUI PUSAT KOMUNIKASI BISNIS BERBASIS WEB
(Suatu Gagasan)

Abstrak
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan kelompok pelaku ekonomi terbesar dalam perekonomian Indonesia dan terbukti menjadi katup pengaman perekonomian nasional dalam masa krisis, serta menjadi dinamisator pertumbuhan ekonomi pasca krisis ekonomi. Selain menjadi sektor usaha yang paling besar kontribusinya terhadap pembangunan nasional, UMKM juga menciptakan peluang kerja yang cukup besar bagi tenaga kerja dalam negeri, sehingga sangat membantu upaya mengurangi pengangguran.
Salah satu kunci keberhasilan usaha mikro, kecil dan menengah adalah Read more…

century

RIBUT-RIBUT soal pengucuran dana penyelamatan Bank Century terus berlanjut walaupun Menteri Keuangan Sri Mulyani berulang kali mengatakan penyelamatan terhadap bank kecil itu telah sesuai dengan peraturan.

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) telah mengucurkan dana sebesar Rp6,7 triliun kepada Bank Century atas rekomendasi pemerintah dan Bank Indonesia. Padahal, dana yang disetujui DPR hanya sebesar Rp1,3 triliun.

Misteri itulah yang ditindaklanjuti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan meminta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk melakukan audit investigasi terhadap bank.

Tidak hanya KPK, DPR pun meminta BPK mengaudit proses bailout tersebut. Itu karena sebelumnya DPR pada 18 Desember 2008 telah menolak Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 4 Tahun 2008 tentang Jaring Pengaman Sektor Keuangan (JPSK) sebagai payung hukum dari penyelamatan bank milik pengusaha Robert Tantular itu.

Kasus Bank Century telah memperlihatkan kepada kita bahwa ada bank kecil yang mendapatkan dukungan besar dari otoritas keuangan dan bank sentral. Pertanyaannya adalah semangat apakah yang melatarinya? Read more…

Lingk hidup

BAB I
PENDAHULUAN

Kabupaten Sidoarjo, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibukotanya adalah Sidoarjo. Kabupaten ini berbatasan dengan Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik di utara, Selat Madura di timur, Kabupaten Pasuruan di selatan, serta Kabupaten Mojokerto di barat. Sidoarjo dikenal sebagai penyangga utama Kota Surabaya. Perikanan, industri dan jasa merupakan sektor perekonomian utama Sidoarjo. Selat Madura di sebelah Timur merupakan daerah penghasil perikanan, diantaranya ikan, udang, dan kepiting. Logo Kabupaten menunjukkan bahwa Udang dan Bandeng merupakan komoditi perikanan yang utama kota ini. Sidoarjo dikenal pula dengan sebutan “Kota Petis”.
Oleh-oleh makanan khas Sidoarjo adalah Bandeng Asap dan Kerupuk Udang. Sektor industri di Sidoarjo berkembang cukup pesat karena lokasi yang berdekatan dengan pusat bisnis kawasan Indonesia Timur (Surabaya), dekat dengan Pelabuhan Laut Tanjung Perak maupun Bandar Udara Juanda, memiliki sumber daya manusia yang produktif serta kondisi sosial politik dan keamanan yang relatif stabil menarik minat investor untuk menanamkan modalnya di Sidoarjo. Sektor industri kecil juga berkembang cukup baik, diantaranya sentra industri kerajinan tas dan koper di Tanggulangin, sentra industri sandal dan sepatu di Wedoro – Waru dan Tebel – Gedangan, sentra industri kerupuk di Telasih – Tulangan.
Namun semenjak tanggal 29 Mei 2006, bencana melanda Sidoarjo. Semburan lumpur menyembur dari lubang pengeboran milik PT Lapindo Brantas dan terus membanjiri rumah warga di sekitarnya menyebabkan aktivitas ekonomi warga terhenti dan menyebabkan kerugian triliunan rupiah.
Makalah ini akan membahas dampak kelalaian yang ditimbulkan oleh PT Lapindo Brantas dan dampaknya terhadap lingkungan sekitar Read more…

industry

April 16, 2010 1 komentar

BAB I
PENDAHULUAN

Di lndonesia terdapat tiga kategori pelaku usaha sepatu. Pertama, adalah produsen sepatu bermerek internasional seperti Adidas. Reebok, dan Nike yang setiap tahunnya selalu mendapatkan order dari luar negeri. Katagori kedua adalah produsen sepatu bermerek non-internasional seperti Diadora, Ftfla. dan lain-lain. Dan kategori ketiga adalah IKM yang memproduksi sepatu nonmerek.
Industri sepatu nasional yang berorientasi ekspor mayoritasnya adalah jenis industri subkontrak dari para prinsipal sepatu global seperti Nike, Adidas, Reebok. Para pemegang merek branded ini menggunakan skenario produksi berbasis kontrak karena industri sepatu merupakan industri yang berbasis tenaga kerja (labor intensive) di dalam proses produksinya. Karena mahalnya upah buruh di negara tempat para pemegang merek ini maka mereka memproduksi di negara-negara yang menawarkan upah buruh yang murah, seperti Indonesia.
Industri persepatuan nasional merupakan salah satu andalan ekspor nonmigas Indonesia pascabonanza minyak (oil boom) sejak dekade 1990. Ekspor sepatu (footwear) menduduki peringkat ketiga produk ekspor berbasis tenaga kerja setelah pakaian jadi dan tekstil. Kalau sebelum 1990 ekspor sepatu kurang dari US$ 1 miliar, maka pada 1990 telah mencapai nilai ekspor sebesar US$1,324 miliar. Bahkan pernah mencapai puncaknya hingga US$ 2,2 miliar pada 1999.
Perkembangan pesat industri sepatu di Indonesia ini tidak diimbangi dengan pengembangan industri pendukung. Berbagai masalah timbul seperti impor produk China, kebijakan pajak, bunga kredit perbankan, bahan baku, dan masalah perburuhan.

bab ii
pembahasan

2.1. Pengertian industri
Industri secara umum adalah kelompok bisnis tertentu yang memiliki teknik dan metode yang sama dalam menghasilkan laba. Industri adalah suatu kelompok usaha yang menghasilkan produk yang serupa atau sejenis. Industri merupakan suatu kegiatan ekonomi yang mengolah barang mentah, bahan baku, barang setengah jadi atau barang jadi untuk dijadikan barang yang lebih tinggi kegunaannya. Industri adalah kumpulan dari beberapa perusahaan yang memproduksi barang-barang tertentu dan menempati areal tertentu dengan output produksi berupa barang atau jasa.
Istilah industri juga digunakan bagi suatu bagian produksi ekonomi yang terfokus pada proses manufakturisasi tertentu yang harus memiliki permodalan yang besar sebelum bisa meraih keuntungan. Dalam kasus ini sebenarnya lebih tepat disebut industri besar. Dalam perencanaan ekonomi dan wilayah urban, kawasan industri adalah penggunaan lahan dan aktivitas ekonomi secara intensif yang berhubungan dengan manufakturisasi dan produksi.

2.2. Kelompok Industri
Yang merupakan kelompok utama dari industri adalah :
1.Industri budidaya: Merupakan industri yang mengolah sumber daya alam yang dapat terbarukan, antara lain pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, perikanan.
2.Industri ekstraktif: Merupakan industri yang mengolah sumber daya alam yang tak terbarukan, antara pertambangan mineral logam, non logam, batu bara, minyak bumi dan gas.
3.Industri fabrikasi: Merupakan industri yang menghasilkan produk dengan mengolah dan memprosesnya dalam suatu sarana fisik atau bengkel. Yang termasuk dengan industri fabrikasi adalah industri manufaktur dan industri proses kimia.
4.Industri konstruksi: Merupakan industri yang berhubungan dengan penyediaan bangunan-bangunan fisik yang dimanfaatkan untuk kepentingan publik maupun sosial, antara lain : pengecoran beton, konstruksi, arsitek.
5.Industri jasa: Merupakan industri yang menyediakan pelayanan jasa kepada yang membutuhkan, antara lain meliputi perbankan, asuransi, bursa efek, perdagangan, transportasi, pemerintahan, pariwisata, pendidikan, hiburan, kesehatan.

2.3. Jenis-Jenis Industri
a.Jenis industri berdasarkan tempat bahan baku
1.Industri ekstraktif, adalah industri yang bahan baku diambil langsung dari alam sekitar. Contoh: pertanian, perkebunan, perikanan, pertambangan, dan lain lain.
2.Industri nonekstaktif
Industri nonekstaktif, adalah industri yang bahan baku didapat dari tempat lain selain alam sekitar.
3.Industri fasilitatif, adalah industri yang produk utamanya adalah berbentuk jasa yang dijual kepada para konsumennya. Contoh: Asuransi, perbankan, transportasi, ekspedisi, dan lain sebagainya.

b.Jenis industri berdasarkan besar kecil modal
1.Industri padat modal, adalah industri yang dibangun dengan modal yang jumlahnya besar untuk kegiatan operasional maupun pembangunannya
2.Industri padat karya, adalah industri yang lebih dititik beratkan pada sejumlah besar tenaga kerja atau pekerja dalam pembangunan serta pengoperasiannya.

c.Jenis industri berdasarkan klasifikasi
1.Industri kimia dasar
Contohnya seperti industri semen, obat-obatan, kertas, pupuk, dan lain-lain.
2.Industri mesin dan logam dasar
Contohnya industri pesawat terbang, kendaraan bermotor, tekstil, dan lain-lain.
3.Industri kecil
Contoh seperti industri roti, kompor minyak, makanan ringan, dan lain-lain.
4.Aneka industri
Misal seperti industri pakaian, industri makanan dan minuman, dan lain-lain.

d.Jenis industri berdasarkan jumlah tenaga kerja
1.Industri rumah tangga, adalah industri yang jumlah karyawan / tenaga kerja berjumlah antara 1-4 orang.
2.Industri kecil, adalah industri yang jumlah karyawan / tenaga kerja berjumlah antara 5-19 orang.
3.Industri sedang atau industri menengah, adalah industri yang jumlah karyawan / tenaga kerja berjumlah antara 20-99 orang.
4.Industri besar, adalah industri yang jumlah karyawan / tenaga kerja berjumlah antara 100 orang atau lebih.

e.Jenis industri berdasakan pemilihan lokasi
1.Industri yang berorientasi atau menitikberatkan pada pasar (market oriented industry), adalah industri yang didirikan sesuai dengan lokasi potensi target konsumen. Industri jenis ini akan mendekati kantong-kantong di mana konsumen potensial berada. Semakin dekat ke pasar akan semakin menjadi lebih baik.
2.Industri yang berorientasi atau menitikberatkan pada tenaga kerja / labor (man power oriented industry)
3.Adalah industri yang berada pada lokasi di pusat pemukiman penduduk karena bisanya jenis industri tersebut membutuhkan banyak pekerja / pegawai untuk lebih efektif dan efisien.
4.Industri yang berorientasi atau menitikberatkan pada bahan baku (supply oriented industry), adalah jenis industri yang mendekati lokasi di mana bahan baku berada untuk memangkas atau memotong biaya transportasi yang besar.

f.Jenis industri berdasarkan produktifitas perorangan
1.Industri primer, adalah industri yang barang-barang produksinya bukan hasil olahan langsung atau tanpa diolah terlebih dahulu. Contohnya: hasil produksi pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan, dan sebagainya.
2.Industri sekunder, adalah industri yang bahan mentah diolah sehingga menghasilkan barang-barang untuk diolah kembali. Contoh: pemintalan benang sutra, komponen elektronik, dan sebagainya.
3.Industri tersier, adalah industri yang produk atau barangnya berupa layanan jasa.
Contoh: telekomunikasi, transportasi, perawatan kesehatan, dan sebagainya.

2.4. KENDALA YANG DIALAMI INDUSTRI SEPATU

2.4.1. Impor produk China
Menjelang awal tahun 2010, industri sepatu dalam negeri menyiapkan diri dengan lonjakan impor produk asal China. Dengan penerapan pembebasan bea impor, industri sepatu dalam negeri diperkirakan akan menangis. Kebijakan pembebasan bea impor antara Indonesia dengan China sangat merugikan. Terlebih untuk industri sepatu dalam negeri.
Indonesia, sampai saat ini belum bisa menyaingi harga produksi sepatu asal China. Untuk produktifitas tenaga kerja pun, Indonesia masih jauh tertinggal. Menurutnya, angkatan kerja Indonesia hanya 60% dari yang warga China miliki. Dari hasil studi yang LIPI lakukan, pengrajin sepatu asal Cibaduyut, Bandung, sudah mengeluh dengan sepinya pembeli. Ini termasuk angka penjualan yang semakin menurun. Hal yang sama juga diakui pengrajin alas kaki asal Surabaya.
Saat ini mereka sudah mengkombinasikan produk sepatu lokal dengan produk asal China. Belum AFTA dengan China saja, kita sudah kedatangan banyak produk ilegal. Dengan analisa sederhana, lanjutnya, Indonesia dinilai belum siap jika harus head-to-head dengan China.
Untuk mengantisipasi hal ini yang dapat dilakukan pemerintah adalah dengan meminimalkan produk ilegal yang masuk ke dalam negeri. Selain itu, kebijakan non tarif lainnya adalah, penerapan standar produksi nasional, dan pelabelan produk UMKM.
Kondisi tersebut bisa terjadi karena tidak adanya keberpihakan pemerintah terhadap industri sepatu dalam negeri. Kebijakan yang diambil pemerintah selama ini, justru kontraproduktif dengan keinginan menggenjot ekspor nonmigas, misalnya, soal pajak penghasilan (PPN) 10 persen.

Kebijakan tersebut dirasakan sangat memberatkan dan pada akhirnya mengurangi daya beli masyarakat. Berbeda dengan Pemerintah Cina yang justru memberikan insentif pajak bagi pengusaha terutama yang berorientasi ekspor. Di sisi lain, proteksi pabean dinilai masih sangat lemah dan gagal mencegah terjadinya penyelundupan.
Berbicara soal lemahnya daya saing tidak ada jalan lain kecuali pemerintah turun tangan untuk melindungi industri dalam negeri. Dari sekian banyak industri sepatu dalam negeri dan sebagian besar berbentuk UKM, hanya sekitar 20 perusahaan yang masih mampu berkompetisi sisanya sedang berjuang untuk hidup sekadarnya karena UKM-lah yang paling terpukul di pasar domestik.
Dengan kondisi tiadanya keberpihakan dari pemerintah pengusaha dalam negeri harus terus meningkatkan kualitas produknya dan lebih sensitif terhadap model-model terbaru. Mengenai promosi, tidak banyak yang bisa dilakukan produsen dalam negeri. Dengan keterbatasan dana, pengusaha kita terutama UKM, promosi bukan merupakan hal yang prioritas.
Pengusaha domestik bukannya tidak melakukan efisiensi. Tapi, itu juga tidak banyak menolong. Soalnya, setelah dilakukan berbagai langkah efisiensi pun, harga jual sepatu domestik yang paling murah masih berkisar di level Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu per pasang. Bandingkan dengan sepatu buatan Cina yang bisa dijual dengan harga Rp 30 ribu per pasang.

2.4.2. Menurunnya Ekspor
Industri sepatu tengah limbung, salah satu sektor yang menjadi korban krisis finansial global adalah industri sepatu dan alas kaki. Akibat merosotnya ekspor, tercatat ada 120.000 karyawan perusahaan sepatu di Indonesia yang terpaksa dirumahkan.
Sejak krisis merebak, ekspor sepatu melorot hingga 20%. Hal itu berpengaruh signifikan terhadap industri sepatu dalam negeri, yang merupakan industri padat karya. Produsen sepatu yang berorienstasi ekspor umumnya hanya sebagai tukang jahit. Dampaknya, saat order berkurang, karyawan terpaksa dirumahkan.
Demi mengantisipasi agar ekspor sepatu tidak semakin rendah Aprisindo dan pangusaha berusaha mencari buyer baru. Selain itu juga berupaya untuk mencari pasar alternatif jika demand negara tujuan ekspor sepi.
Tidak mudah membidik pasar baru. Sebab, hampir semua negara juga terpukul akibat krisis global. Untuk itu, industri sepatu tanah air harus jeli melihat peluang dan potensi pasar. Misalnya, produen sepatu sebaiknya menjauhi pasar Timur Tengah karena kalah dengan produsen China.
Negara tujuan ekspor alas kaki Indonesia yang terbesar masih didominasi oleh Amerika yang mencapai 21% dari total ekspor. Menyusul Jerman sebesar 10%, Bergia 9%, Inggris 8% dan Itali sebesar 7%.

2.4.3. Kebijakan Pajak
Sudah begitu, kebijakan pajak yang ditetapkan pemerintah juga terasa memberatkan pengusaha lokal. Selama ini, pemerintah mewajibkan para pengusaha membayar pajaknya secara langsung. Sebaiknya ada penangguhan pembayaran pajak sampai terjadinya penjualan atau ekspor bagi industri yang membeli bahan baku dari pasar domestik. Pemerintah juga diharapkan bisa memangkas sebagian pajak yang dikenakan pada para pengusaha. Pola itu juga yang dilakukan oleh penguasa di Negeri Tirai Bambu sana, terutama bagi pengusaha yang berorientasi ekspor.

2.4.4. Bunga Kredit Perbankan
Kendala lain yang dihadapi para pengusaha sepatu adalah tingginya bunga kredit perbankan. Ini memang kendala klasik. Sekarang ini, bunga kredit perbankan masih berada di atas 15%. Di negara lain, ambil contoh Cina, bunga itu hanya sekitar 4% sampai 6% saja. Celakanya, sudah bunganya tinggi begitu, kebanyakan bank di Indonesia juga tak mau memberikan kredit buat industri sepatu. Maklum, di mata para bankir, industri sepatu mirip dengan industri tekstil yang dianggap sudah melewati masa jayanya.

2.4.5. Bahan baku
Selain itu juga disoroti kesulitan para pengusaha sepatu ketika mendapatkan bahan baku. Pasokan produk kulit dan bahan baku lain yang diperlukan industri sepatu dalam negeri tidak mencukupi kebutuhan. Makanya, para pengusaha mengimpor bahan baku tersebut. Kebutuhan bahan baku yang harus diimpor itu tak kurang dari 60%. Tentu saja langkah ini akan menambah biaya lagi.
Kekurangan kulit dirasakan terutama untuk sepatu jenis sport. Bahan baku kulit dari sapi Jawa yang berkualitas justru diekspor. Sebab, produsen luar negeri berani membayar mahal. Pembayarannya pun dilakukan secara tunai. Produsen sepatu dalam negeri daya belinya masih rendah untuk mampu membeli kulit yang berkualitas. Pembayarannya juga pakai bilyet giro yang baru cair beberapa bulan kemudian. Tak heran bila penghasil dan pengelola kulit memilih untuk melakukan ekspor..
Untuk menyiasatinya, para produsen sepatu dalam negeri pun kerap melakukan impor kulit, tentu saja dengan harga yang tak lebih tinggi dari harga jual ekspor kulit dari pabrik kulit tanah air. Ini memberatkan karena ongkos produksi sepatu 60% di antaranya untuk pengadaan bahan baku kulit.
Pemerintah diminta untuk serius menangani masalah ini jika tak ingin industri sepatu kembali limbung. Solusi praktisnya, adalah menjaga dan meningkatkan populasi sapi jawa sebagai sumber bahan baku kulit yang berkualitas. Kulit sapi Jawa ini diburu dan jadi favorit produsen sepatu sport di seluruh dunia. Sebab, kulitnya bagus dan terawat karena sapi Jawa selalu dibersihkan dua kali dalam sehari. Kalau malam dibakarkan jerami agar tak ada binatang pengganggu yang merusaknya.

2.4.6. Masalah Perburuhan
Ada satu lagi kendala yang dihadapi para pengusaha sepatu: masalah perburuhan. Buruh selalu menuntut upah yang lebih tinggi. Tapi, masalahnya, kenaikan upah itu tidak dibarengi dengan peningkatan produktivitas pekerja. Djimanto, mantan Ketua Umum Aprisindo dan kini menjabat Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), lalu mencontohkan bahwa seorang pekerja di Cina mampu membuat lima pasang sepatu per hari. Padahal, pekerja di sini hanya mampu membuat sepasang sepatu per hari. Ujung-ujungnya, masalah buruh ini akan berakibat juga pada penurunan daya saing industri sepatu nasional.
Padahal kebutuhan sepatu di pasar dalam negeri bisa mencapai 300 juta pasang per tahun. Jelas, itu merupakan pasar yang luar biasa besar. Tapi, apa boleh buat, industriwan lokal sulit memanfaatkan celah yang lebar itu. Bahkan, pemakaian kapasitas terpasang industri sepatu lokal cuma tinggal 60% saja. Lalu, sudah lebih dari 40% pasokan sepatu di pasar domestik datang dari luar negeri. Padahal, tujuh tahun silam, penetrasi asing itu masih 20% saja.
Kebanyakan, serbuan produk asing itu berupa sepatu sport. Ada memang produk lokal yang bisa bersaing di sini. Tapi, itu hanya bisa dilakukan oleh sejumlah perusahaan yang menyandang merek yang mendunia, seperti Nike, Adidas, Reebok, Puma, atau Umbro. Di luar merek-merek tadi, kebanyakan produsen kena tendang. Bata yang sudah terkenal saja terhantam. Semester pertama tahun ini, nilai penjualannya anjlok 30% dari tahun silam.

2.5. PESANAN BERALIH KE CHINA DAN VIETNAM
Akibat iklim investasi di Indonesia kurang kondusif sejak krisis ekonomi, para pemegang merek seperti Nike, Reebok, Adidas dan merek lain mengalihkan ordernya ke negara lain seperti Vietnam dan China. Kondisi ini tentu menjadikan industri sepatu nasional dalam bayang-bayang kesuraman. Padahal, jenis industri ini sejalan dengan strategi industrialisasi di Indonesia yang masih bertumpu pada keunggulan komparatif.
Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat menggunakan produk dalam negeri, tidaklah berjalan mulus. Parahnya lagi, Cina dan Vietnam tampil menjadi pesaing yang menawarkan harga produksi yang lebih murah. Di samping itu, iklim perburuhan yang lebih baik, termasuk insentif menarik dari pemerintah. Alhasil, banyak pesanan sepatu yang beralih dari Indonesia ke dua negara tersebut.
Bahkan, produk dua negara itu mampu mengalahkan Taiwan atau Korea Selatan, negara yang mendominasi kancah persepatuan di pasar Asia Pasifik dan Eropa. Dalam setahun terakhir, pabrik-pabrik sepatu di Cina Selatan, misalnya, bisa menambah mesin produksi dari rata-rata 3 sampai 4 unit, menjadi 11 unit.
Perkembangan industri sepatu yang sangat pesat itu, ditopang oleh industri rumahtangga yang kuat, masif, dan tersebar ke berbagai wilayah. Industri sepatu pun lebih efisien, khususnya dalam pengelolaan tenaga kerja. Jangan heran melihat industri rumahtangga jauh lebih banyak ketimbang pabrik-pabrik besar.
Yang tidak kalah penting, industri sepatu tidak pernah kesulitan mendapatkan bahan baku. Pemerintah mendukung dan mempermudah akses bahan baku. Selain itu, memberi insentif tarif bea masuk 0 persen, asal bertujuan untuk memberdayakan industri lokal. Indikator efisien itu sangat bergantung pada kemudahan memperoleh bahan baku.
Kenyataan yang berbeda dialami oleh industri sepatu dalam negeri. Bahan baku yang sulit dan mahal serta persoalan klasik birokrasi yang kurang pro-bisnis menjadi alasan. Relokasi pabrik sepatu dari luar negeri tak terjadi. Sebaliknya, beberapa industri sepatu malah gulung tikar. Proses impor menjadi makin lama dan biaya pun membengkak.

2.6. DAMPAK PERDAGANGAN BEBAS TERHADAP INDUSTRI SEPATU
2.6.1. Sebanyak 3.000 Industri Sepatu Nonmerek Terancam Tutup
Daya Saing Kita Selalu Rendah
Produk dengan kualitas rendah dan ber-segmen konsumen menengah ke bawah akan banyak terkena dampak negatif kawasan perdagangan bebas ASEAN-China. ACFTA merupakan perjanjian yang memberikan tarif nol persen untuk 7306 pos. Selain ACFTA, berlaku juga kawasan perdagangan bebas ASEAN dan CEPT AFTA (Common Effective Preferential Tariff AFTA). Isinya, memberikan tarif nol persen kepada 8.654 pos, penghapusan pembatasan kuantitatif. dan hambatan-hambatan nontarif lainnya.
Pemerintah tampak tidak mempersiapkan industri dalam negeri menghadapi china Sekalipun Menko Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan AFTA berpotensi melemahkan industri dalam negeri, pada praktiknya produk China telah merambah ke persendian ekonomi rakyat. Secara umum dampak negatifnya lebih banyak daripada positifnya. Karena daya saingnya lebih rendah. Apa yang dimiliki China pasti akan merugikan industri kita,” kata Agus Eko Nugroho, peneliti ekonomi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Ditambahkan, ini terjadi karena posisi Indonesia dengan China adalah kompetitor bukan sinergi, sehingga barang produk China dan Indonesia akan bersaing merebutkan pasar. Untuk itu, menurut Agus, kalaupun perdagangan bebas dengan China tetap berjalan solusi yang baik adalah mengurangi peraturan-peraturan daerah yang membuat harga menjadi lebih tinggi, salah satunya perda distribusi.
Kalangan pengusaha sepatu menegaskan industri nasional berorientasi domestik akan terkena dampak negatif implementasi perjanjian perdagangan bebas antara ASEAN dan China. Dikatakannya, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional kebanyakan merupakan industri kecil dan menengah (IKM) dan masih menyasar segmen menengah ke bawah yang merupakan karakteristik mayoritas konsumen di dalam negeri. .
Ketua Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko juga menyatakan bahwa yang akan terkena imbas negatif implementasi ACFTA adalah sekitar 3.000 unit IKM yang memproduksi sepatu nonmerek dan berorientasi pasar dalam negeri.
Di lndonesia terdapat tiga kategori pelaku usaha sepatu. Pertama, adalah produsen sepatu bermerek internasional seperti Adidas. Reebok, dan Nike yang setiap tahunnya selalu mendapatkan order dari luar negeri. Katagori kedua adalah produsen sepatu bermerek non-internasional seperti Diadora, Filla. dan lain-lain. Dan kategori ketiga adalah IKM yang memproduksi sepatu nonmerek “Kalau yang kateagori satu dan dua masih punya peluang untuk bersainglah. Kalau yang IKM ini. bisa berakibat penutupan pabrik,” ujar Eddy.

Rencana Aksi
Sebagai langkah awal. Hidayat berupaya menekan gembungnya ongkos produksi akibat banyak nya pungutan liar di jalur transportasi yang mengakibatkan ekonomi biaya tinggi. Action plan yang sedang disiapkan yaitu memperkuat safeguard ke Bea cukai. Kita bandingkan ongkos produksi China dan Indonesia agar pemerintah bisa membuat lebih efisien.kita juga fight untuk menekan ongkos produksi.

2.6.2. Pengusaha Sepatu Mojokerto Menjerit Hadapi Perdagangan Bebas
Sejumlah pengusaha sepatu kecil menengah di Kabupaten Mojokerto mengaku kelimpungan menghadapi aturan perdagangan bebas atau free trade agreement (FTA) ASEAN.
Para pedagang sudah merasakan dampak dari aturan itu. Pada sektor usaha kecil sepatu mitasi misalnya, pengusaha merugi hingga 50 persen. “Orderan berkurang 50 persen, artinya produksi kami juga berkurang sebesar itu,” kata Budi Utomo, anggota Gabungan Pegusaha Sepatu (GPS) Kabupaten Mojokerto, Selasa (19/01).
Sepinya order terjadi karena para pelanggan banyak yang memilih menunggu produk impor masuk ke Indonesia. Alasannya, harga produk impor lebih murah daripada produk lokal.Permintaan yang sepi membuat pengusaha menurunkan jumlah barang produksi. Keputusan itu juga akan berimbas pada menurunya penghasilan pengusaha maupun pekerja. Jika dalam satu bulan-rata-rata pengusaha sepatu mitasi memproduksi sepatu sebanyak 8.000 pasang sepatu, saat ini mereka hanya memproduksi sekitar 4.000 hingga 4.500 sepatu.
Bahkan, beberapa pengusaha anggota GPS saat ini sudah ada yang menghentikan produksi untuk sementara waktu, karena orderan mereka sepi. Ada juga yang dalam satu minggu pengusaha hanya berproduksi selama empat sampai lima hari. “Awalnya satu minggu full, tapi karena sepi, ya, empat hari kerja, sisanya tidak,” terang mantan ketua GPS ini.
Kecemaasan itu muncul ketika dia memasarkan sepatu buatannya ke sejumlah pasar grosir di Jawa Timur. Di pasar-pasar itu telah berdatangan produk sepatu impor dari Cina yang harganya lebih murah. Akhirnya, dia juga harus menurunkan harga jika ingin bersaing dengan produk impor tersebut. “Padahal ongkos produksinya untuk belanja bahan baku mahal,” kata dia.
Dampak perdagangan bebas itu juga dirasakan para perajin alas kaki berupa sandal sepatu. Ketua Komite Pengusaha Alas Kaki Kota Mojokerto, Emru Suhadak, mengatakan salah satu dampak aturan pasar bebas itu yang paling mencolok adalah dibatasinya jumlah order (pesanan) oleh grosir dan pelanggan di beberapa daerah, seperti Surabaya, Malang, Bali, Kalimantan, Jawa Tengah dan Jakarta.

2.6.3 Perajin Sepatu Subang Siap Bersaing dengan Cina
Pemberlakuan perdagangan bebas antara ASEAN-Cina (CAFTA) pada tahun ini cukup membuat ketar-ketir para pengusaha usaha kecil dan menengah. Namun tidak demikian dengan para perajin sepatu rumahan di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Mereka siap bersaing dengan produk sepatu asal Cina, tentunya dengan tetap menjaga kualitas sepatu.
Chaeruddin, misalnya. Dia adalah pemilik industri rumahan yang terletak di Jalan DI Panjaitan, Kelurahan Karanganyar, Subang. Mereka harus lebih giat bekerja karena banyaknya pesanan sepatu yang diterima industri rumahan ini.
Di lokasi ini berbagai jenis sepatu diproduksi dengan harga yang relatif terjangkau. Mulai dari harga Rp 85 ribu hingga Rp 135 ribu per pasang. Umumnya, sepatu yang diproduksi adalah jenis sepatu kulit. Walau harganya relatif murah, soal kualitas tidak diragukan lagi.
Terkait dengan maraknya pemberitaan perdagangan bebas Indonesia-Cina, Chaeruddin mengatakan, para perajin sepatu di Subang pada umumnya tidak terlalu mempermasalahkan hal ini. Karena mereka yakin mampu bertahan dengan tetap menjaga kualitas, serta menciptakan model-model sepatu yang mengikuti perkembangan zaman. Dengan ini, para pembuat sepatu di Subang optimistis pembeli akan tetap memilih produk mereka ketimbang produk Cina.
Chaeruddin juga menjelaskan, justru dengan adanya perdagangan bebas ini akan tercipta persaingan yang lebih gigih lagi. Nanti akan terlihat produk Cina yang lebih baik atau produk lokal lebih utama. Dan, biarlah konsumen yang menentukan.
Tarbin, salah seorang pembeli mengatakan, sepatu buatan Subang ini memiliki kelebihan dibandingkan produk Cina. Meski harganya sama-sama murah, produk sepatu buatan Subang lebih kuat dan tahan lama. Selain itu, sepatu buatan Subang ini lebih tahan air dan lebih banyak corak dan modelnya.

BAB III
PENUTUP

Pemerintah tidak bisa membiarkan persoalan yang dihadapi industri sepatu. Berbagai faktor yang menjadi kendala, pertama faktor ekonomi seperti ketidaktersediaan bahan baku dan bahan baku penolong di dalam negeri. Akibatnya, kinerja perusahaan tidak lincah, biaya membengkak karena harus mengimpor yang akhirnya bermuara pada ketepatan waktu order. Di lain pihak, suku bunga perbankan menyebabkan industri tidak kompetitif dibandingkan Cina, Vietnam atau Thailand yang menerapkan suku bunga yang ramah terhadap dunia usaha.
Kedua, hambatan non ekonomi, yakni kepastian hukum, kebijakan perburuhan serta peraturan-peraturan terkait otonomi daerah. Banyak pengaturan aneh-aneh dikeluarkan pemerintah yang implikasinya mematikan dunia usaha.
Sebetulnya, kemelut yang dihadapi industri sepatu merupakan permasalahan lama namun semakin membesar karena tiada penyelesaian. Penurunan daya saing industri sepatu nasional sebagian besar disumbang oleh faktor eksternal yang membuat perusahaan tidak bisa efisien. Tak heran, bila kemudian Indonesia sulit bersaing dengan Cina atau Vietnam. Padahal dalam industri sepatu, Indonesia lebih dulu berperan sedangkan kedua negara itu boleh disebut sebagai pendatang baru. Namun, kenyataannya sekarang Cina mampu menguasai 60 persen pasar sepatu di AS.
Industri sepatu boleh saja sedikit pesimistis. Tapi mereka masih menyimpan optimisme jika industri persepatuan akan kembali bangkit. Perlu kekompakan semua elemen dan tentu saja kerja keras, termasuk menjadikan produk sepatu Indonesia sebagai tuan rumah di negeri sendiri sekaligus mampu merajai pasar internasional.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.digilib.itb.ac.id › Member › NGO › JBPTITBM

http://id.wikipedia.org/wiki/Industri

http://www.kabarbisnis.com/industri/283955-Masa_suram_industri_persepatuan.html

http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/promarketing/2004/0127/prom1.html

http://www.detiknews.com
http://www.jurnal.bl.ac.id/wp-content/uploads/2008/01/karya%20juli07
http://www.organisasi.org/pengertian_definisi_macam_jenis_dan_penggolongan_industri_di_indonesia_perekonomian_bisnis
http://www.tribun-timur.com/read/artikel/25284

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.